Body Face

  1. Body Face Lab Indonesia

    www.bodyfacelab.co.id/Promotion
    Jadi langsing hanya dgn Rp 1.3 juta
    untuk 10 perawatan pelangsingan

Senin, 05 April 2010

Bakat Diabetes

Memandu Bakat Diabetes

Rabu, 21 Januari 2009 | 09:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Setelah berkeluh kesah kepada dokter, Satrio, 38 tahun (bukan nama tulen), disarankan puasa 12 jam sebelum cek gula darah. Dia pun manut, lantas dia cuma menenggak air putih, dari pukul 8 malam hingga 8 pagi. Hasilnya, kadar gula darah puasa Satrio menjadi 100 mg/dl. Namun, rentang dua jam setelah buka puasa,angka itu melonjak menjadi 204 mg/dl. "Padahal cuma makan mi campur telur," ujarnya saat berbagi cerita di seminar kesehatan mengenai diabetes di kantor pusat PT Sun Hope Indonesia, Jakarta, Minggu sore lalu.

Menurut kardiolog dan internis Rumah Sakit Pertamina Pusat, dr Djoko Maryono, Satrio berbakat diabetes. Kadar gula darah memang meningkat sehabis makan, tapi akan kembali normal dalam dua jam. "Bila masih lebih dari 200 mg/dl, menunjukkan hormon insulinnya tidak bekerja," ia mengungkapkan.

Pada orang normal, naiknya kadar gula dalam darah sehabis makan memicu organ pankreas mengeluarkan insulin untuk mencegah kenaikan kadar gula lebih tinggi. Sehingga, secara perlahan kadar gula menurun. Namun, pada penderita diabetes, pankreas tak mampu memproduksi insulin sesuai dengan kebutuhan badan.

Dalam versi Djoko, orang dianggap berbakat diabetes saat kadar gula darah sewaktu diperiksa mencapai 150-180 mg/dl. Bakat ini bisa berasal dari garis keturunan, atau memiliki kegemukan sentral, di mana ukuran lingkar pinggang pria lebih dari 90 sentimeter dan perempuan sebesar 80 sentimeter. Kemudian, perempuan melahirkan bayi lebih dari 4,5 kg, juga diindikasi berbakat diabetes. "Bakat diabetes 30 persen dipengaruhi genetika, sedangkan 70 persen dari pola hidup dan lingkungan," ia menuturkan.

Adapun penderita diabetes biasanya cenderung banyak makan, minum, serta buang air kecil. Terkadang, berdasarkan kisah nyata Primayanto, 50-an tahun yang juga menderita diabetes, seluruh bagian tubuh terasa tidak enak. Badan kerap pegal linu, rambut rontok, dan bobot tubuh turun mencapai 20 kilogram. "Bahkan koreng saya tidak sembuh-sembuh selama satu setengah tahun," papar Yanto.

Namun, kriteria itu belum terlihat pada orang yang baru sebatas berbakat diabetes. Tapi gejala yang kerap timbul lazimnya 20 persen di antaranya mengalami masalah penglihatan, 35 persen gangguan jantung, 45 persen disfungsi ereksi, dan sisanya terjangkit luka yang tak kunjung sembuh.

Penduduk Indonesia yang terkena diabetes diperkirakan bakal melonjak. Pada 2010 akan mencapai 85-100 juta jiwa. Pemicunya, tak lain, negeri ini adalah bagian dari kawasan Asia Pasifik yang karakter orangnya gemar makan manis, berlemak, dan berbumbu. Adapun angka akselerasi penderita diabetes wilayah ini mencapai 57 persen, sedangkan di belahan Amerika jauh di belakang, cuma 23 persen.

Sebagai jawabannya, menurut Djoko, adalah gaya hidup. Menilik sejarah, sejumlah pola makan masyarakat Nusantara berisiko menaikkan gula darah dan merusak fungsi pankreas. Misalnya di daerah Gunung Kidul, banyak perempuan hamil makan geplak---dari singkong yang mengandung sianida atau racun. Menurut dr Brusma dari Universitas Amsterdam, yang meneliti daerah itu pada 1950, sianida dalam geplak merusak pankreas pada bayi, sehingga pankreas tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya, produksi insulin tidak normal.

Karena itu, banyak populasi dari Gunung Kidul gula darahnya tinggi. "Orang sana lemua (gemuk) sedikit langsung diabetes," ujar Djoko. Faktor rebound phenomena juga berpengaruh besar dalam hal ini. Ketika hidup di desa tirakat, tapi setelah hidup di kota mereka banyak makan yang serba manis dan penuh lemak. Biasanya mereka cuma makan geplak dari singkong gondoruwo (singkong yang besar) lalu dibuat geplak atau tiwul.

Selain penduduk Pulau Jawa, masyarakat Sumatera diintai diabetes. Tercatat 3 dari 10 orang Padang menderita hipertensi dan gangguan toleransi gula dalam darah. Hal itu lantaran mereka "keracunan" gula dan lemak dari sajian penuh bumbu. Lalu, pola makan masyarakat urban dan perkotaan juga patut dikambinghitamkan. Makanan cepat saji ala Barat sebetulnya mengandung tinggi radikal bebas. Bahan makanan itu diolah ulang pada suhu tinggi, lalu disimpan, kemudian diawetkan. "Soft drink dua botol sehari dapat mengakibatkan serangan diabetes," ujar Djoko.

Untuk itu, cobalah modifikasi gaya hidup Anda. Dimulai dini saat ibu hamil tiga bulan pertama. Karena pada masa itu, janin harus tercukupi asupan proteinnya agar sekat jantung dan pembentukan pankreas menjadi sempurna. Dari banyak studi ditemukan, ikan kembung, selain berisi protein, mengandung Omega 3 paling tinggi. Fungsi Omega 3 ini membuat lentur pembuluh darah sehingga menghindari pembentukan plak atau sumbatan pada pembuluh darah, termasuk di jantung. "Omega 3 juga meningkatkan pengambilan insulin dari sel," papar Djoko.

Juga jangan lupa melakukan 7.500 langkah per hari. Rinciannya, 1 kalori itu 25 langkah dan seseorang harus membakar 300 kalori per hari. "300 kalori itu sama dengan satu bungkus Indomie atau dua minuman kola atau sebungkus nasi goreng," kata Djoko. Lalu, bagi yang sudah terjangkit diabetes, selesai makan sangat disarankan langsung jalan kaki. Paling tidak 2.500 langkah yang bisa membakar 100 kalori. Langkah sebanyak itu sama dengan 50 meter. Bisa dilakukan baik pagi, siang, maupun malam.

Dalam kesempatan yang sama, ahli gizi PT Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, menganjurkan olahraga minimal tiga kali seminggu. Durasinya sekitar 40 menit, 20 menit pertama membakar gula dan 20 menit kedua membakar kolesterol. "Atur dengan baik asupan kalori, total lemak jenuh, kolesterol, karbohidrat, dan pemanis," ucapnya.

HERU TRIYONO


Hindari Bakat Diabetes

1. Kurangi makanan manis dan yang mengandung garam tinggi.
2. Jauhi makanan cepat saji dengan kadar karbohidrat dan lemak yang tinggi.
3. Taruh sayur dan buah di posisi terbawah piramida makanan.
4. Biasakan berolahraga secara rutin tiga kali seminggu.
5. Gunakan gula dari jagung atau gula dari tumbuh-tumbuhan.

* Share on Twitter
* Share on Facebook
* Share
* Send
* Print

Topik :

* Kesehatan

Komentar (1)

kebanyakan orang jawa suka manis, gimana dong??

Joko, Jakarta, 25/01/2009 11:41:31 wib



* Tentang
* Kontak
* Lowongan

Copyright © 2010 TEMPOinteraktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar