Body Face

  1. Body Face Lab Indonesia

    www.bodyfacelab.co.id/Promotion
    Jadi langsing hanya dgn Rp 1.3 juta
    untuk 10 perawatan pelangsingan

Minggu, 18 April 2010

pelayanan kesehatan

Ponari, potret buram pelayanan kesehatan
Saturday, 21 February 2009

Ponari, potret buram pelayanan kesehatan

BEBERAPA waktu lalu media massa ramai memberitakan fenomena Ponari, bocah berumur 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Bocah itu mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Cara penyembuhannya jauh berbeda dengan praktik dokter pada umumya.

Ponari yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini hanya menggunakan batu ajaibnya yang dicelupkan ke air yang dibawa pasien. Dengan meminum air yang sudah dicelup batu itu, segala penyakit sembuh. Seperti dalam dunia dongeng, kabar dukun cilik dengan batu ajaibnya itu menyebar ke penjuru Jombang dan sekitarnya. Maka, berduyun-duyun warga Jombang dan sekitarnya mendatangi rumah sang dukun cilik. Jumlahnya sangat mencengangkan. Mencapai ribuan. Di televisi, bisa kita lihat betapa mereka berdesak-desakan demi kesembuhan penyakit yang didera.

Kebanyakan dari mereka adalah rakyat miskin, yang jelas tak memiliki banyak uang untuk menjadi pasien di klinik dokter, apalagi di rumah sakit yang notabene adalah tempat orang untuk berobat. Sudah menjadi rahasia umum bila kesehatan di masyarakat kita teramat mahal. Hingga muncul anekdot, orang miskin tak boleh sakit. Memang, negara telah menyediakan Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas, tetapi pelayanannya sering kali menyedihkan. Misal saja di Puskesmas dekat tempat saya tinggal. Puskesmas ini baru melayani pasien mulai pukul sembilan pagi. Tak jarang dokter yang bertugas datang terlambat hingga 30 menit.

Penulis pernah menyaksikan seorang dokter di sebuah Puskesmas memeriksa pasien sambil ngobrol lewat ponselnya. Stetoskop hanya dikalungkan di leher, sama sekali tak digunakan. Sang dokter hanya bertanya dan menulis resep. Terkesan dokter memeriksa pasien dengan separuh hati. Seharusnya, mereka menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan saat mereka bertugas. Melayani masyarakat miskin dengan sepenuh hati, menyamakan kedudukan pasien miskin dengan dirinya yang juga manusia. Puskesmas tak jarang enggan melayani pasien yang datang setelah pukul sebelas lewat. Anehnya lagi, dokter sering tak ada dengan alasan sedang keluar. Ini contoh kecil kurang maksimalnya pelayanan kesehatan terhadap rakyat kecil.

Untuk ke dokter yang membuka praktik pribadi? Hanya orang-orang yang memiliki uang yang bisa dengan rutin mengunjungi dokter. Si miskin sering kali tak berdaya ketika dibeberkan berapa biaya yang mesti dibayar.

Mengunjungi rumah sakit? Lebih mengenaskan lagi. Untuk rumah sakit Cipto Mangunkusumo yang notabene melayani seluruh kalangan masyarakat dengan biaya lebih murah sering kali terjadi pembiaran terhadap pasien.

Rumah sakit di negeri kita bukanlah tempat yang nyaman untuk mencari kesembuhan. Untuk bisa menghuni sebuah kamar perawatan, keluarga pasien meski merogoh kantong dalam-dalam sebagai uang muka. Tanpa membayar minimal uang muka, jangan harap bisa mendapatkan perawatan yang semestinya. Tak jarang pasien bertambah parah karena tak cepat ditangani. Itulah sekelumit potret buram buruknya pelayanan kesehatan di negeri kita.

Tak heran orang-orang yang berkantong tebal memilih terbang ke luar negeri, Singapura. Di sinilah surga mendapatkan pelayanan kesehatan terpenuhi. Kurang manusiawinya pelayanan kesehatan di rumah sakit kita membuat orang Indonesia mencari kesembuhan ke sana. 50 persen pasien di Singapura adalah warga negara Indonesia. Mengapa? Pelayanan kesehatan di luar, termasuk Singapura, sangat ramah dan mudah.

Bagaimana dengan orang miskin di negeri kita? Karena pelayanan kesehatan di negeri kita kurang menyenangkan bagi saudara kita yang miskin, mereka pun mencari jalur lain. Alternatif. Baik alternatif orangnya, ilmunya, obatnya, maupun biayanya.

Kembali lagi ke dukun cilik Ponari yang mencengangkan dan memilukan bagi dunia kesehatan kita, nalar sehat pun menjadi terlupakan. Batu ajaib Ponari jelas tak akan bisa diterima oleh kalangan kesehatan negeri kita. Tetapi, kemiskinan senantiasa dekat dengan kurangnya kecerdasan dalam berpikir. Mereka berbondong-bondong karena emosi mereka yang ingin cepat terlepas dari derita.

Fenomena Ponari adalah tantangan bagi dunia kesehatan kita. Seyogianya, pemerintah mulai memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk meluruskan tingkah laku rakyat dalam berobat. Dukun Ponari mestinya menjadi media pengingat bagi negara, yakni pemerintah, untuk memperbaiki bentuk pelayanan kesehatan yang mampu menyentuh orang miskin.

Sebenarnya, pemerintah pernah mengeluarkan program Askeskin pada 2005. Ini menggembirakan tentu. Tapi, masalahnya, pelaksanaannya di lapangan tidaklah mulus. Misalnya, lambannya pembayaran klaim rumah sakit, sampai-sampai ada rumah sakit yang kemudian menolak melayani peserta Askeskin ini. Ada pula yang menggelembungkan jumlah klaim. Itu semua membuat pelaksanaan progam ini menjadi terganggu.

Di luar soal ini, sudah waktunya negara menyikapi serius masalah kesehatan ini. Tidak hanya tingkat kebijakan, juga pelaksanaan di lapangan. Seperti banyak dikeluhkan masyarakat, tempat-tempat layanan kesehatan, mulai puskesmas sampai rumah sakit, belum memberikan layanan maksimal. Bahkan, rumah sakit kini terasa hampir kehilangan misi kemanusiaan. Rumah sakit yang mestinya memberi pertolongan sudah masuk ke wilayah kapitalis. Uang dijadikan mesin utama di rumah sakit-rumah sakit kita.

Perlu langkah-langkah yang lebih strategis untuk membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih ramah dan menjangkau seluruh golongan. Misalnya, jika untuk masyarakat miskin diberikan asuransi gratis, kalangan tidak miskin pun dipikirkan cara serupa. Contohnya, negara menyediakan asuransi buat mereka dengan premi yang terjangkau sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Sebab, saat biaya kesehatan menjadi tinggi, sebesar apa pun kekayaan seseorang akan habis bila menghadapi masalah pengobatan.

Dengan kata lain, setiap warga negara yang lahir, orang tua segera melapor ke kelurahan setempat untuk dibuatkan kartu asuransi. Berbekal kartu asuransi kesehatan itulah, masyarakat dapat dilayani dengan baik, tanpa dibebani dengan tagihan rumah sakit yang membengkak atau sikap rumah sakit yang mengharuskan seseorang membayar uang panjar dulu baru rumah sakit bersedia memberi perawatan. Asuransi adalah solusi untuk segala persoalan yang timbul sehingga tingkat kesehatan masyarakat akan menjadi lebih baik.

Untuk mewujudkan model asuransi kesehatan kepada setiap warga, kita bisa mencontoh Singapura. Negara ini menggunakan tiga model asuransi, yakni medisave (wajib), medishield (tidak wajib), dan medifund. Pembayaran premi ini berasal dari pemerintah, swasta, dan pribadi. Memang, Pemerintah Singapura tak seratus persen membiayai seluruh ongkos kesehatan. Tetapi, dengan adanya asuransi kesehatan untuk rakyat, masyarakat sana lebih ringan ketika hendak berobat.

Jadi, setiap golongan masyarakat tidak lagi takut menghadapi mahalnya biaya kesehatan atau sombongnya sikap rumah sakit. Sebab, hal inilah yang membuat harapan penyembuhan secara instan dan murah laku keras. Sehingga, mereka pun datang ke tempat-tempat pengobatan alternatif, yang kadang sulit dipertanggungjawabkan metodenya, termasuk mendatangi Ponari. Ironisnya, Ponari sendiri kemudian dirawat di rumah sakit karena kelelahan melayani pasienpasiennya. hf

Bagas Setyo Waluyo
Mhs Universitas Boyolali

[Kembali]

© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar